Pelantikan Organisasi Mahasiswa BEM, DPM, HMJ dan FKI Fakultas Ilmu Budaya Unilak 2016/2017

Tabloid Tanjak. Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning pada Senin 21 November 2016 melaksanakan Pelantikan Organisasi Mahasiswa BEM, DPM, HMJ dan FKI Fakultas Ilmu Budaya masa bakti 2016/2017. Bertempat di ruang Seminar Ilmu Budaya. Acara pelantiakn dihadiri oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Presiden Mahasiswa Unilak, Kaprodi jurusan dan para Dosen dilingkungan Fakultas Ilmu Budaya. Suasana khidmat terasa saat lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan mengawali acara yang dimuai pukul 08:00 pagi WIB. Dan pelaksanaan ini terlaksana sesuai surat keputusan Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unilak Nomor: 1001/Unilak-06/D.10/2016 tentang Pemberhentian Pengangkatan Pengurus BEM, DPM, HMJ dan FKI. Andika Rokan selaku Presiden Mahasiswa Unilak dalam sambutannya menyampaikan bahwa sejak pelantikan ini pengurus yang terpilih harus giat dan bertanggungjawab atas amanah yang diberikan.

Selepas kegiatan pelantikan pengurus BEM, DPM, HMJ dan FKI kali ini, juga diisi dengan Sosialisasi dan Rapat Program Pimpinan FIB UNILAK.(Tankjak Edisi 2)

Dosen FIB Unilak Taja Pelatihan Menulis Puisi di SMA Negeri 7 Pekanbaru

Pekanbaru – Dalam rangka Tri Dharma Perguruan Tinggi, khusunya dalam bidang Pengabdian kepada Masyarakat, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning melakukan beberapa kegiatan. Salah satunya mengadakan Pelatihan Menulis Puisi bagi Siswa SMA dan pada hari Sabtu (26/11/2016), pelaksanaan pengabdian ini dilakukan di SMA Negeri 7, Jalan Kapur, Pekanbaru.

Menurut Rhiki Pranata, salah seorang pembimbing siswa SMA Negeri 7, kegiatan seperti ini hendaknya dilakukan secara berkesenambunga. Hal ini, kata Rhiki, dapat mengenalkan karya sastra, khususnya puisi kepada siswa.

“Kami menyambut baik dengan kegiatan yang dilakukan oleh dosen FIB Unilak ini. Kami berharap kegiatan ini terus berlanjut,” ucap Rhiki Pranata yang juga pelatih teater di SMA Negeri 7.

Sementara itu, Muhammad Kafrawi, S.S., M.Sn, dosen FIB Unilak, yang melakukan pengabdian penulisan puisi ini, menjelaskan bahwa tujuan kegiatan memang sasarannya siswa SMA. Hal ini dilakukan untuk mendekatkan karya sastra kepada generasi muda.

“Beberapa tahun ini, kami melakukan pengabdian, khususnya di bidang penulisan karya sastra dilaksanakan di sekolah-sekolah. Mudah-mudahan kegiatan ini dapat melahirkan penulis-penulis karya sastra dari Riau,” ujar M. Kafrawi, yang juga Ketua Program Studi Sastra Indonesia.(Tanjak SAI)

Sempena Semarak Budaya Melayu, FIB Unilak Sosialisasi ke MAN 1 Muara Fajar

Pekanbaru – Dalam rangka menyosialisasi perhelatan Semarak Budaya Melayu, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Lancang Kuning berkunjung ke Madrasah Aliah Negeri 1 Muara Fajar, Pekanbaru, Sabtu (26/11/2016).

Sosialisasi ini diketuai oleh Wakil Dekan 1, Fiqru Mafar, M. Ip. Hadir juga Wakil Dekan III, Nining Sudiar, M. Ip, Kaprodi Sastra Daerah (Melayu), Juswandi, S.S., M.A.. Selain dosen, kegiatan ini dihadiri perwakilan mahasiswa program studi di lingkungan FIB Unilak. Sekitar sepuluh mahasiswa yang menjadi perwakilan dari masing-masing prodi yaitu Sastra Indonesia, Sastra Inggis, Sastra Daerah (Melayu), dan Ilmu Perpustakaan

“Ya, sosialisasi ini dalam rangka kegiatan Semaran Budaya Melayu yang akan dilaksanakan pada tanggal 2-3 Desember 2016. Kegiatan ini juga secara tidak langsung merupakn promosi FIB kepada siswa MAN 1,” ucap Fiqru.

Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah MAN I, Agus, Kampus 2 Muara Fajar, mengatakan bahwa kegiatan ini sangat positif untuk merangsang kreativitas siswa di bidang seni (sastra-red). “Siswa-siswi MAN 1 lebih menyukai karya seni seperti drama dibandingkan belajar,” kata Agus.

Pada kesempatan ini juga, mahasiswa FIB Unilak menampilkan pembacaan gurindam dan baca puisi. Sementara itu siswa MAN 1 Kampus 2 Muara Fajar juga menampilakn persembahan baca pusi dan juga pembacaan gurindam karya Raja Ali Haji.

Jalan Kedamaian

Perasaan manusia setiap waktu, pastilah akan mengalami kegoncangan-kegoncangan, baik goncangan itu membahagiakan, maupun kegoncangan kesedihan. Kegoncangan ini, terutama kegoncangan kesedihan, menciptakan kegelisahan, dan kegelisahan akan pula menciptakan gerakan emosi, baik itu emosi perlawanan, maupun emosi kepasrahan dengan mendiamkan diri. Segala tindakan manusia dalam mengatasi goncangan ini adalah upaya untuk lepas dari segala macam masalah. Namun demikian, masalah akan senantiasa datang dan datang lagi selagi manusia bernafas.

Karya sastra adalah merupakan salah satu wadah untuk menyalurkan emosi perlawanan untuk kembali normal. Bukankan perasaan yang terpendam menyakitkan dibandingkan dengan perasaan yang diungkapkan? Artinya, karya sastra merupakan ungkapan perasaan manusia yang datang dari masalah yang sedang dihadapi oleh manusia. Perlawanan perasaan yang ada di dalam karya sastra bermacam ragam bentuknya. Ada perlawanan yang bersifat pertentangan dan ada juga perlawanan bernada menerima sesuatu itu sebagai takdir.

Perlawanan bersifat pertentangan biasanya disuarakan oleh penulis-penulis karya sastra yang memiliki eksistensi atau keberadaan manusia yang kuat. Salah satu penulis karya sastra ini adalah Chairil Anwar. Puisi Chairil Anwar berjudul Aku, memperlihatkan sosok Chairil Anwar yang pantang menyerah berhadapan dengan masalah kehidupan. Ada nada perlawanan Chairil Anwar ingin memperlihatka sikapnya kepada orang lain, bahwa walaupun sendiri, namun keberadaannya sebagai manusia yang bersikap berseberangan dengan orang lain, tetap akan diperhitungkan. Ini dapat kita lihat dari kalaimat aku ini binatang jalan… ingin hidup seribu tahun lagi.

Tentu saja perlawanan-perlawanan dalam karya sastra berdasarkan kehidupan yang dijalani oleh penulisnya. Seandainya seseorang penulis karya sastra itu selalu menjlankan kehidupan dengan romantis, maka karya-karyanya juga akan ‘berbua’ romatis. Salah seorang penulis karya sastra dunia yang terkenal, Khalil Gibran, merupakan contoh yang tepat untuk karya-karya sastra yang berbua romantis. Karya-karya Khalil Gibran merupakan pancaran kelembutan dalam menghadapai masalah hidup, maka karya-karyanya juga memperlihatkan kelembutan itu.

Perlawanan yang dituangkan dalam karya sastra adalah bertujuan mencari kedamaian, baik kedamaian penuliskarya itu, maupun kedamian bagi pembaca atau masyarakat banyak. Ada semangat yang dibawa dalam karya sastra itu, yaitu mengenal diri lebih dikat lagi. Dengan mengenal diri lebih dekat lagi, maka manusia akan mengetahui jalan hidupnya, yaitu menciptakan kedamaian. Inilah yang dimaksud bahwa karya sastrai itu merupakan pencerahan bagi manusia. Untuk mendapatkan pencerahan dari karya sastra, dibutuhkan perenungan dan melebarkan sayap hati dan pikiran dalam membaca karya-karya sastra. (Tabloid Tanjak Sastra Indonesia)